Monday, March 29, 2010

gabungDUA

PUISI
MENATAP – ANTARA LANGIT DAN AWAN
(titipan muhasabah)

Malam begini di kota
bagai membelah dada awan
disobek kesakitan
umpama tangisan lewat usia nan renta
tak bisa berbuat apa
kala
ada tangan yang mencakar
ada mata yang menikam
tubuh malam yang hitam
dengan rakusnya (syaitan)
dengan matinya (iman)
dengan jauhnya (diri dari Tuhan)

Dan tersungkur dia
pada zulmat tikungan
hakikatnya, nur bergerlap kemilauan
tiada apa yang mengenal siapa
saat dipasung isim dosa

Ya Rabb, izinkan dia menatap (sekian kali)
wajah langit – sarat muhasabah, juraian keinsafan
lalu mencicip setitis dari lautan
Kasih-Mu
dari Rahim-Mu (terdasarkan ketenangan)

Copyright 2010 Raehan Intisor & Hafiz Fanshuri

No comments:

Post a Comment